Dasar Pemeriksaan Fisis

Macz Tags

physical-examination-pemeriksaan-fisisDalam merumuskan sebagian besar gangguan klinik, pemeriksaan fisis sebenarnya memainkan peranan kurang penting bila dibandingkan dengan anamnesa (pengambilan riwayat) yang tersusun sistematis dan jelas menurut tingkatan kejadiannya. Meski demikian, pemeriksaan fisis mempunyai nilai yang penting di dalam memperkuat penemuan-penemuan yang berhasil kita dapatkan dari anamnese yang telah kita ambil tersebut dan menambah atau mengurangi pilihan diagnosis yang dapat kita lakukan.

Semenjak zaman Laennec dan Aunbrugger, beberapa alat telah diciptakan untuk membantu menambah ketelitian dan kemajuan dalam melakukan pemeriksaan klinik. Alat-alat seperti stetoskop, otoskop, sfigmomanometer, oftalmoskop, senter, palu ketok, garputala, pita pengukur, lensa kantong dan spatel lidah serta thermometer adalah contoh alat-alat yang mesti di lengkapi apabila henadka melaukan pemeriksaan fisis yang lengkap dan akurat.

Rasa hormat pada tubuh dan pribadi pasien yang akan diperiksa adalah mutlak harus dijaga. Hindarkan segala tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya perasaan malu atau perasaan tidak nyaman yang tidak perlu. Penderita harus merasa senyaman mungkin selama proses pemeriksaan berlangsung. Selain untuk menjaga hubungan antar dokter-pasien yang baik, tentu saja demi kepentingan diagnosis itu sendiri. Dibutuhkan sikap kooperatif dari pasien agar dapat ditegakkannya diagnosis yang tepat.
Sama pentingnya, pemeriksa juga tidak boleh kaku ataupun canggung, misalnya membungkukkan badan padahal sebenarnya tempat tidur pasien dapat dinaikkan pada ketinggian yang nyaman buat pemerksa. Kenyamanan pemeriksa ini penting agar pemeriksaan dapat dilakukan sebaik-baiknya dan tidak tergesa-gesa sehingga data yang dikumpulkan bagus mutunya dan bermakna.

Setelah pasien dipersiapkan baik jasmani dan rohani, maka proseder pemeriksaan fisis telah dapat dijalankan. Dilakukan dengan cara sistematik, dengan melakukan periksaan regional yang lengkap, mulai dengan kepala dan leher termasuk dada dan jantung, abdomen, anggota gerak dan akhirnya daerah pelvis dan rektum. Pada pemeriksaan rutin, sebaiknay hindari pemeriksaan daerah-daerah yang tidak nyaman, seperti daerah pelvis dan rectum, hingga pada akhir pemeriksaan.

GARIS BESAR PEMERIKSAAN FISIS

Persiapan untuk melakukan pemeriksaan

PERLENGKAPAN. stetoskop, otoskop, sfigmomanometer, oftalmoskop, senter, palu ketok, garputala, pita pengukur, lensa kantong, spatel lidah, thermometer dan tonometer.

PERSIAPKAN PENDERITA. Hindarkan tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan perasaan-perasaan malu pada penderita dan jangan membuka badan bila tidak diperlukan.

PERMULAAN PEMERIKSAAN. Raba nadi penderita, ukur tekanan darahnya, amati penderita secara keseluruhan.

Tindakan-tindakan dasar

INSPEKSI
Lakukan Inspeksi pada setiap daerah tubuh penderita untuk mendapatkan gambaran hal berikut ini :

1. Kulit

1. Warna dan pigmentasi
2. Lesi-lesi
3. Vaskularisasi superficial
4. Udema
5. Kelembapan, kekeringan atau sifat perminyakannya dan susunan jaringan
6. Sifat rambut serta kuku

2. Selaput Lendir

1. Warna dan pigmentasi
2. Lesi-lesi
3. Vaskularisasi Superfisial
4. Udema
5. Kelembapan dan sekresinya

3. Arsitektur

1. Ukuran dan bentuk
2. Simetris atau deformitas, penonjolan atau pembengkakan lokal
3. Pertumbuhan dan perkembangan otot

4. Pergerakan

1. Otot, tulang dan persendian
2. Pernafasan
3. Pembuluh darah
4. Peristaltik
5. Dan lain lain

5. Posisi

PALPASI
Setiap daerah tubuh harus diraba agar dapat dperoleh keterangan yang berikut ini :

1. Penegasan dan penambahan hasil yang didapatkan pada waktu inspeksi
2. Keterangan primer yang baru diperoleh pada saat melakukan palpasi :

1. Kepekaan terhadap rangsang nyeri superficial, profunda, nyeri lepas (rebound pain) dan nyeri alih (referred pain)
2. Tonus otot : tahanan otot yang meningkat, spasme, rigisitas (kekakuan)
3. Tumor (massa) : Kelenjar limfe dan oragan-oragan di bawahnya yang dapat kita raba namun biasanya tidak terlihat. Lakukan penilaian atas :

* Letak dan hubungannya dengan struktur lainnya di sekitarnya
* Arsitektur : Ukuran, bentuk, simteris, kebebasannya, pinggirnya.
* Konsistensi, fluktuasi
* Kepekaan terhadap nyeri, kemrahan , panas
* Mobilitas dan perlekatannya
* Berdenyut

PERKUSI
Adalah suatu teknik pemeriksaan dengan cara mengetok-ngetok suatu daerah pada tubuh pasien, untuk mendengarkan suara yang ditimbulkannya dan merasakan tahanan yang dijumpai pada daerah yang kita ketok tersebut.

Klasifikasi suara pada pemeriksaan ketok ini :
1. Nyaring
2. Redup
3. Datar
4. Timpani
5. Pekak
6. Sonor

AUSKULTASI
Auskultasi adalah suatu teknik pemeriksaan dimana kita menangkap dan mengenali suara yang berasal dari berbagai organ tubuh, dengan mendengarkannya pada permukaan tubuh, baik dilakukan secara langsung dengan menempelkan telinga pada permukaan tubuh, maupun dengan menggunakan stetoskop.

1. Klasifikasi suara yang dapat kita dengarkan di dada :

1. Bunyi pernafasan : bunyi inspirasi dan ekspirasi, ronki (rales), ronki kering, wheezing.
2. Bunyi suara = Percakapan : Resonansi vocal normal, bronkofoni, egofoni ; Berbisik : Normal, bisikan peqtoriloqui.
3. Bunyi asing

* Bunyi yang terputus-putus, secara jelas satu sama lain nya : rales (halus,sedang, kasar)
* Bunyi yang terus menerus, ronki (suara rendah), wheezing (suara tinggi).
* Friction rubs : pleura (inspiras, ekspirasi), pleuroperikardial.
* Succossion splash : Seperti bunyi air di dalam botol kalau dikocok

2. Klasifikasi suara yang terdengar di atas jantung :

1. S1 : Bunyi jantung pertama, berhubungan dengan penutupan katup mitral (M) dan trikuspidal (T), secara normal, M1 mendahului T1.
2. S2 : Bunyi jantung kedua, berhubungan dengan penutupankatup aorta (A) dan Pulmonal (P). Secara normal A1 mendahului P1.
3. OS : Opening Snap
4. S3 : Bunyi jantung ketiga fisiologis.
5. S3G : Bunyi jantung ketiga Gallop.
6. S4 : Bunyi jantung keempat fisiologis.
7. S4G : Bunyi jantung keempat Gallop.
8. Bising = Sistolik : awal, pertengahan, akhir, holosistolik. Diastolik = awal, pertengahan, akhir, holodiastolis.
9. Clicks