Sindrom Aarskog (faciodigitogenital syndrome)

Sindrom Aarskog adalah sekumpulan kelainan, terutama terhambatnya pertumbuhan tinggi seseorang, kelainan otot, tulang, genitalia dan tampilan fisik serta mental secara keseluruhan. Sindrom ini dinamakan sesuai nama Dokter Ahli Anak  dan Genetik berkebangsaan Norwegia, Dagfinn Aarskog, yang pertama kali mendefinisikan sindrom ini pada tahun 1971.

SINONIM
  • Aarskog syndrome
  • Faciodigitogenital syndrome
  • Shawl scrotum syndrome 
  • Faciogenital dysplasia

ETIOLOGI

Aarskog sindrom merupakan kelainan yang diturunkan secara genetik terkait kromosom X. Kelainan ini terjadi karena adanya mutasi pada kelompok gen yang bernama "faciogenital dysplasia (FGD1)". Terutama mengenai pria, namun wanita dapat juga terkena dalam bentuk yang lebih ringan.
kelainan-genetik-terkait-kromosom-x-resesif
kelainan kromosom x-resesif

Gen FGD1 mengkode exchange factor dari nukleotida guanin (GEF) yang secara spesifik mengaktivasi Cdc42, yang merupakan unsur dari famili Rho (Ras homology) dari GTPase kromosom p21. Seiring teraktivasinya  Cds42, protein FGD1 akan menstimulasi fibroblas untuk membentuk filopodia, yakni elemen sitoskeletal yang terlibat dalam proses signaling, adesi dan migrasi. Selain itu, FGD1 melalui Cdx42, juga akan mengaktivasi c-Jun N-terminal kinase (JNK) pada rantai kaskade, yang dilalui sel dalam prosesnya bertumbuh, ber-apoptosis dan mendiferensiasi diri,

Penelitian pada embrio tikus, protein FGD1 diekspresikan pada kondensasi mesenkimal prekartilageneus, perikondrium, periosteum, proliferasi kondrosit dan osteoblas. Peran FGD1 nampak sebagai signaling pada berbagai tipe sel skeletal seperti perikondrosit mesenkimal kondrosit dan steoblas. Pemahaman fungsi FGD1 pada embiro tikus ini, membantu menjelaskan kelainan yang terjadi bila terjadi defek atau mutasi pada gen ini,

Kesimpulannya, bila terjadi defek/mutasi pada FGD1/Cdx42 akan menyebabkan gangguan pertumbuhan pada fase embrional khususnya perkembangan tulang rawan dan pembentukan tulang kompak.

KELAINAN KLINIS
  • Pertumbuhan : tinggi badan yang pendek, mulai nampak pada usia 1-3 tahun
  • Performa : defisiensi mental ringan hingga sedang, hiperaktivitas (karena tidak bisa fokus), hubungan sosial biasanya baik.
  • Anomali skeletal : tubuh pendek, leher pendek, tangan dan kaki yang kecil dan lebar, jari tangan dan kaki yang pendek (brakidaktili), jari kelingking melengkung (klinodaktili), lipatan simian di telapak tangan, ibu jari yang lebar.
  • Anomali wajah : wajah bulat, kelopak mata jatuh sehingga nampak sipit (blepharoptosis),hidung kecil dengan cuping terbuka keluar, batas rambut seperti widow's peak, jarak mata yang lebar (hipertelorisme), maxilla tidak berkembang sempurna, cekungan lebar di bibir atas, lipatan di bibir bawah, pertumbuhan gigi yang lambat, cuping telinga agak terlipat.
  • Anomali dada : tampak pectus excavatum ringan (dada cekung ke dalam)
  • Anomali abdomen : pusar menonjol, hernia inguinal
  • Anomali genital : Saddle bag scrotum (skrotum menggantung pada penis), undesensus testis.

DIAGNOSIS
  • Tes genetik melacak mutasi pada gen FGD1.
  • X-rays

TERAPI

Sama dengan penyakit genetik lainnya, sindroma Aarskog tidak dapat disembuhkan. Namun beberapa kelainan fisik bila berat dapat diperbaiki dengan operasi, untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Bedah tulang dan orthodontik, sering diindikasikan bila perlu. Pemberian growth hormon, cukup efektif mengatasi tubuh pendek.

PROGNOSIS

Dapat ditemukan gangguan mental ringan hingga sedang, namun penderita Aarskog biasanya memiliki kemampuuan interaksi sosial yang cukup baik.

KOMPLIKASI
  • Penderita pria dapat mengalami penurunan fertilitas
  • Dapat terjadi perubahan kistik pada otak dan kejang umum.
  • Dapat mengalami perlambatan pertumbuhan terutama pada tahun pertama kehidupan (pada sepertiga kasus)
  • Gangguan pertumbuhan gigi geligi
  • Gangguan jantung

PENCEGAHAN

Pada pasangan yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini ataupun mutasi genetik terkait, dianjurkan untuk melakukan tes genetik