Sekilas Malaria

Malaria adalah penyakit yang berpotensi mengancam jiwa disebabkan oleh infeksi protozoa jenis Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina yang infektif. Infeksi Plasmodium falciparum membawa prognosis yang buruk dengan angka kematian yang tinggi jika tidak diobati, tetapi memiliki prognosis yang sangat baik jika didiagnosis dini dan diobati dengan tepat.
plasmodium-dalam-saliva-nyamuk-anopheles-betina
plasmodium dalam liur nyamuk anopheles betina

Gejala dan Tanda Malaria
Pasien dengan malaria biasanya memberi gejala beberapa minggu setelah infeksi, meskipun periode inkubasi dan munculnya gejala dapat bervariasi pada tiap individu,secara umum tergantung pada faktor host dan spesies penyebab.

Beberapa gejala klinis yang sering ditemukan meliputi:
  • Sakit kepala (ditemukan pada hampir semua pasien dengan malaria)
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Rasa tidak enak
  • Menggigil
  • Arthralgia (nyeri sendi)
  • Mialgia (nyeri otot)
  • Serangan demam yang tiba-tiba disertai menggigil, dan berkeringat (setiap 48 atau 72 jam, tergantung pada spesies malaria yang menyerang)
Sementara gejala yang kurang umum ditemukan adalah sebagai berikut:
  • Anoreksia dan lesu
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Penyakit kuning
  • Kebanyakan pasien dengan malaria tidak memiliki temuan fisik tertentu, tetapi mungkin terdapat pembesaran limpa (splenomegali). Malaria berat bermanifestasi sebagai berikut:
  • Malaria serebral (kadang-kadang sampai koma)
  • Anemia berat
  • Gangguan pernafasan: termasuk asidosis metabolik, edema paru; tanda-tanda sindrom hyperpneic malaria, retraksi dada, penggunaan otot aksesori untuk respirasi, dan pernapasan  dalam abnormal
  • Gagal ginjal (biasanya reversibel)
Diagnosis Malaria
Anamnesis riwayat pasien harus mencakup pertanyaan dasar seperti :
  • Apakah baru saja melakukan perjalanan jauh ke daerah endemik
  • Status imun, usia, dan status kehamilan
  • Alergi atau kondisi medis lainnya
  • Obat-obatan yang mungkin sedang dikonsumsi saat ini
Pemeriksaan darah meliputi :
  • Kultur darah
  • Konsentrasi hemoglobin
  • Jumlah trombosit
  • Fungsi hati
  • Fungsi ginjal
  • Konsentrasi elektrolit (terutama natrium)
  • Pemantauan parameter sugestif untuk hemolisis (haptoglobin, laktat dehidrogenase [LDH], jumlah retikulosit)
  • Pada beberapa kasus, tes HIV cepat (rapid test)mungkin diperlukan
  • Jumlah sel darah putih: Kurang dari 5% penderita malaria memiliki leukositosis; dengan demikian, jika ditemukan leukositosis, penegakan diagnosis harus diperluas
  • Jika pasien harus diterapi dengan primakuin, periksalah kadar enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).
  • Jika pasien memiliki malaria cerebral, periksa kadar glukosa untuk menyingkirkan hipoglikemia
Pemeriksaan radiologi berikut dapat dipertimbangkan  :
  • Radiografi Thorax, jika ditemukan gejala gangguan pernapasan
  • CT-Scan kepala, jika ditemukan gejala sistem saraf pusat
Tes spesifik untuk infeksi malaria harus dilakukan, sebagai berikut:
  • Mikrohematokrit sentrifugasi (sensitif tapi tidak spesifik)
  • Pewarna neon / tes indikator ultraviolet (mungkin tidak menghasilkan informasi spesifik)
  • Pemeriksaan apusan (smear) darah yang standar baik tipis (kualitatif) maupun tebal (kuantitatif): Perhatikan bahwa 1 smear negatif tidak mengecualikan malaria sebagai diagnosis; beberapa smear harus diperiksa dalam kurun 36 jam.
  • Pemeriksaan lab alternatif selain smear darah (digunakan jika hasil smear darah tidak memadai): Termasuk rapid test, PCR, amplifikasi asam nukleat berbasis urutan (sekuensial), dan buffy coat kuantitatif.
Secara histologis, berbagai spesies Plasmodium yang menyebabkan malaria dapat dibedakan berdasar pada :
  • Kehadiran bentuk awal parasit dalam darah perifer
  • Kalikan terinfeksi sel darah merah
  • Usia sel darah merah yang terinfeksi
  • Bintik Schüffner
  • Fitur morfologis lainnya
Penatalaksanaan Malaria
Pilihan pengobatan malaria ditentukan oleh jenis spesies yang menyebabkan infeksi, meliputi :
  • Plasmodium falciparum
  • Plasmodium vivax
  • Plasmodium ovale
  • Plasmodium malariae
  • Plasmodium knowlesi
Di Amerika Serikat, pasien dengan infeksi plasmodium falciparum sering memerlukan rawat inap untuk memungkinkan pengamatan terhadap komplikasi yang mungkin muncul. Pasien dengan malaria selain Plasmodium falciparum yang secara fisik baik, biasanya dapat diobati secara rawat jalan.
Rekomendasi umum untuk pengobatan malaria secara farmakologis adalah sebagai berikut:
  • Plasmodium falciparum : Terapi berbasis kina (atau kuinidin) sulfat ditambah doxycycline atau klindamisin atau pyrimethamine-sulfadoksin; sebagai alternatif gunakan artemeter-lumefantrine, atovakuon-proguanil, atau mefloquine.
  • Plasmodium falciparum yang tidak resisten klorokuin (hanya beberapa daerah di Amerika Tengah dan Timur Tengah): Klorokuin
  • Plasmodium vivax, P ovale malaria: Klorokuin ditambah primakuin.
  • Plasmodium malaria : Klorokuin.
  • Plasmodium knowlesi : rekomendasi Sama seperti untuk Plasmodium malaria falciparum
Wanita hamil (terutama primigravida) dapat 10 kali lebih mungkin untuk terkena malaria daripada wanita nongravid dan memiliki kecenderungan lebih besar untuk menderita malaria berat.
Obat-obatan yang dapat digunakan untuk pengobatan malaria pada kehamilan meliputi :
  • Klorokuin
  • Kina
  • Atovakuon-proguanil
  • Klindamisin
  • Meflokuin (hindari pada trimester pertama)
  • Sulfadoksin-pirimetamin (hindari pada trimester pertama)
  • Artemeter-lumefantrine
  • Artesunat dan antimalaria lainnya