PATOFISIOLOGI OBSTRUKSI BILIARIS (sumbatan empedu)

Gangguan pada saluran empedu merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dihadapi penduduk dunia. Sebagian besar kasus gangguan saluran empedu adalah akibat batu empedu (kolelitiasis/cholelithiasis). Di Amerika Serikat, 20% oangtua berusia lebih dari 65 tahun, memiliki batu  empedu dengan diagnosis dibuat sekitar 1 juta kasus tiap tahunnya.

Untuk lebih memahami penyakit ini, haruslah dimengerti struktur dan fungsi normal dari sistem biliaris (empedu). Empedu merupakan sekresi eksokrin dari hati dan diproduksi terus-menerus oleh hepatosit. Empedu terdiri atas kolesterol dan produk limbah seperti bilirubin dan garam empedu, yang berfungsi membantu pencernaan lemak di usus.
anatomi-siste-biliaris

Setengah dari produksi empedu,dialirkan langsung dari hati ke usus halus (duodenum) melalui sistem duktus hepatikus yang bermuara di duktus biliaris communis (common bile duct/CBD). Sementara 50 % sisanya, disimpan di dalam kandung empedu. Empedu yang disimpan di dalam kandung empedu ini kemudian dapat dilepaskan ke dalam usus melalui dustus sistikus, yang bergabung dengan duktus hepatikus dari hati dan membentuk duktus biliaris communis (CBD) tadi.

Perjalanan CBD menuju usus halus, akan melewati caput pankreas, kurang lebih 2 cm, sebelum akhirnya bermuara di ampulla vateri dan duodenum (usus 12 jari).

MEKANISME OBSTRUKSI BILIARIS

Obstruksi biliaris adalah sumbatan pada duktus (saluran) yang dilalui empedu dari hati meuju kandung empedu, atau dari kandung empedu menuju usus kecil. Sumbatan dapat terjadi dalam berbagai level sepanjang sistem biliaris. Tanda dan gejala klinis utama yang terjadi adalah sebagai akibat langsung dari kegagalan empedu diekskresikan ke tempat seharusnya ia berada.

Mekanisme klinis dari kolestasis atau kegagalan aliran biliaris ini terkait dengan obstruksi mekanik ataupun akibat gangguan faktor metabolik di dalam sel-sel hepar. Penyebab obstruksi mekanik dibagi lagi sebagai intrahepatik dan ekstrahepatik. Sementara penyebab metabolik (intraseluler) merupakan penyebab yang lebih kompleks, dan patogenesisnya belum dipahami dengan sempurna.
siklus-enterohepatik-dari-garam-empedu

Kolestasis obstruktif intrahepatik umumnya terjadi pada level hepatosit atau pada membran kanalikular biliaris. Penyebabnya termasuk penyakit-penyakit hepatoseluler (seperti, hepatitis virus, hepatitis induksi obat), kolestasis terinduksi obat, sirosis biliaris dan penyakit hati alkoholik. Pada penyakit hepatoseluler, biasanya akibat interferensi dari tiga rantai utama proses metabolisme bilirubin, yakni uptake, konjugasi dan ekskresi. Obstruksi intrahepatik fase ekskresi merupakan fase dimana kecepatan pelepasan dari empedu terganggu sehingga terjadi gangguan yang berat, menyebabkan limpahan kembali bilirubin terkonjugasi ke dalam serum.

Obstruksi ekstrahepatik terhadap aliran emperdu dapat terjadi di dalam duktus atau sekunder akibat kompresi eksternal. Secara umum, batu empedu (kolelitiasis) merupakan penyebab utama dari obstuksi biliaris. Penyebab lain dari obstruksi di dalam duktus adalah malignansi, infeksi serta sirosis biliaris.  Kompresi eksternal dari duktus dapat terjadi sekunder akibar inflamasi (seperti , pankreatitis) dan keganasan. Apapun penyebabnya, obstruksi fisik merupakan penyebab utama dari hiperbilirubinemia terkonjugasi.
jalur-sekresi-empedu-dari-hati-hingga-duodenum
jalur-sekresi-empedu-dari-hati-hingga-duodenum
Akumulasi bilirubin dalam aliran darah dan dilanjutkan penumpukan dalam kulit, menyebabkan jaundice (ikterus). Ikterus konjungtiva juga ditemukan dan merupakan indikator yang lebih sensitif terhadap hiperbilirubinemia dibandingkan jaundice general. Kadar total bilirubin serum normalnya berkisar antara 0,2 - 1,2 mg/dL. Jaundice mungkin dapat saja tidak dikenali secara klinis hingga level bilirubin serum mencapai 3 mg/dL. Bilirubin dalam urin normalnya tidak ditemukan, dan bilapun ada hanya bilirubin terkonjugasi. Sehingga seringkali pasien yang mengalami jaundice baik karena obstruksi maupun penyebab hepatoseluler, memiliki warna urin yang gelap. Strip reagen sangat sensitif terhadap bilirubin, dapat mendeteksi meski kadarnya hanya 0.05 mg/dL. Sehingga bilirubin urin dapat ditemukan sebelum kadar bilirubin serum mencapai nilai yang menyebabkan jaundice general.

Rendahnya kadar bilirubin dalam saluran cerna menjadi sebab kotoran / fesces menjadi berwarna pucat. Hal ini juga menjadi ciri khas dari obstruksi biliaris. Penyebab gatal-gatal yang timbul pasca obstruksi biliaris tidak diketahui pasti sebabnya, namun diduga terkait dengan akumulasi asam empedu di dalam kulit. Dugaan lainnya adalah terkait pelepasan opioid endogen.

Artikel terkait :
OBSTRUKSI BILIARIS : PATOFISIOLOGI
OBSTRUKSI BILIARIS : PENYEBAB, PEMERIKSAAN FISIS DAN DD
OBSTRUKSI BILIARIS : PEMERIKSAAN PENUNJANG
OBSTRUKSI BILIARIS : TERAPI DAN TATALAKSANA