Kelainan elektrolit dan metabolik : syok

Definisi

Syok adalah kondisi yang ditandai oleh perfusi jaringan tidak adekuat dan hipofungsi dari sel.

Klasifikasi menurut etiologi :
  1. Syok hipovolemik: dehidrasi, kehilangan darah, luka bakar.
  2. Syok distributif: kehilangan tonus vaskular (septik , anafilaktik, syok toksik).
  3. Syok kardiogenik: kegagalan pompa jantung.
  4. Syok obsfruktif: hambatan terhadap sirkulasi oleh obstruksi instrinsik ataupun faktor ekstrinsik. Emboli paru, robekan aneurisma dan tamponade perikard.
syok
ilustrasi pasien syok
Diagnosis :
  1. Hipotensi. Tanda-tanda vital ortostatik mungkin normal pada individu hipovolemik, atau individu normal dapat memperlihatkan perubahan- perubahan yang bersifat ortostatik. Jadi selain mengamati tanda vital juga gunakan pertimbangan klinis. Sebagai tambahan, konsumsi alkohol, makanan ataupun usia lanjut dapat menyebabkan perubahan- perubahan ortostatik dalam Tekanan darah dan nadi.
  2. Penurunan diastolik ortostatik sebesar 10 sampai 20 mm Hg atau peningkatan nadi sebesar15 detak/menit dianggap “bermakna”.
  3. Periksa tanda-tanda vital ortostatik, yakni saat berbaring dan setelah bangkit berdiri selama 1 hingga 2 menit.
  4. Takikardia biasanya ada tetapi mungkin tidak didapatkan bila ada iritasi diafragma, yang menyebabkan stimulasi vagal.
  5. Hipoperfusi ditandai oleh berkurangnya jumlah urin, daya pikir menurun, ekstremitas dingin, bercak-bercak di kulit, dll.
  6. Tujuan resusitasi adalah mempertahankan jumlah urin antara 30 dan 60 ml/jam.
Tatalaksana :
  1. Penting untuk selalu menempatkan pasien pada ruangan
  2. yang hangat dan dalam posisi Trendelenburg (namun posisi ini dikontraindikasikan jika ada gagal jantung bendungan).
  3. Ingat selalu prinsip ABCs.

Syok Hipovolemik

  1. Jangan selalu mengandalkan TD sistolik sebagai indikator utama dari syok; kebiasaan ini sering mengakibatkan tertundanya diagnosis. Mekanisme kompensasi tubuh memungkinkan mencegah terjadinya penurunan Tekanan Darah sistolik yang bermakna, sampai pasien telah kehilangan 30% dari volume darahnya. Perhatian pemeriksa harus lebih ditujukan terhadap nadi, frekuensi napas, dan perfusi kulit dari pasien. Di samping itu, pasien-pasien yang sedang mendapat obat penyekat beta mungkin tidak menunjukkan tanda takikardia, tanpa memandang derajat syoknya.
  2. Telah ditetapkan klasifikasi perdarahan berdasarkan persentasi volume darah yang hilang. Namun sifatnya tidak absolut dan hanya berfungsi sebagai bantuan.Tatalaksananya sendiri haruslah agresif dan lebih dituntun oleh respons terhadap terapi ketimbang menurut klasifikasi awal.
  3. Berikut klasifikasi awal terhadap pasien yang datang dengan perdarahan :
    • Perdarahan Kelas l (kehilangan 0-15%)
      1. Bila tidak ada komplikasi, hanya terlihat takikardia minimal.
      2. Biasanya tidak ada perubahan dalam Tekanan Darah, tekanan nadi, ataupun frekuensi napas.
      3. Keterlambatan pengisian kembali kapiler lebih dari 3 detik sebanding dengan kehilangan volume 10%.
    • Perdarahan kelas II (kehilangan 15-30%)
      1. Gejala klinik mencakup takikardia ( >100 detak per menit), takipnea, penurunan tekanan nadi, kulit yang teraba dingin dan lembab serta pengisian kapiler terlambat dan sedikit rasa cemas.
      2. Penurunan tekanan nadi adalah hasil dari peningkatan kadar katekolamin yang menyebabkan peningkatan tahanan pembuluh darah tepi yang disusul dengan peningkatan Tekanan Darah diastolik.
    • Perdarahan Kelas III (kehilangan 30-40%)
      1. Pada titik ini, biasanya pasien sudah takipnea dan takikardia mencolok, Tekanan Darah sistolik turun, oliguria, perubahan status mental yang bermakna, seperti kebingungan atau gaduh gelisah.
      2. Pada pasien tanpa cedera lain atau tanpa kehilangan cairan, 30-40% adalah jumlah terkecil dari kehilangan darah yang seialu menyebabkan penurunan TD sistolik.
      3. Sebagian besar dari pasien ini membutuhkan transfusi darah, namun keputusan memberikan darah harus didasarkan atas respons awal terhadap pemberian cairan.
    • Perdarahan Kelas IV (kehilangan > 40%)
      1. Gejala-gejala mencakup: takikardia dan penurunan TD sistolik yang mencolok, tekanan nadi mengecil (atau ditemukan tekanan diastolik yang tidak terukur), jumlah urin sedikit atau tidak ada, status mental depresi (atau bahkan kehilangan kesadaran), kulit teraba dingin dan pucat.
      2. Jumlah perdarahan ini mengancam jiwa.
      3. Pada pasien trauma, perdarahan biasanya dianggap sebagai penyebab syok. Meskipun demikian,hal ini harus dibedakan dari sebab-sebab syok lainnya, antara lain:tamponade jantung ( bunyi jantung halus, vena leher distensi), tension pneumothorax (deviasi trakea, bunyi napas berkurang pada satu sisi), dan trauma medulla spinalis (seperti kulit hangat, takikardia tidak sebesar yang diduga, adanya defisit neurologis,dll).
Pemeriksaan lab syok hipovolemik :
  1. Pemeriksaan awal harus mencakup hitung darah lengkap,kadar elektrolit (misal, Na, K, Cl, HCO3, Ureum, kreatinin, glukosa). 
  2. waktu protrombin, activated partial thromboplastin time, 
  3. Gas darah arteri dan urinalisis (pada pasien dengan trauma). 
  4. Golongan darah dan uji silang.
Perawatan pra rumah sakit syok hipovolemik:
Tatalaksana pasien dengan syok hipovolemik sering dimulai di tempat kejadian atau di rumah. Perawatan pra rumah sakit harus diupayakan mencegah trauma lebih lanjut, transpor pasien ke RS secepat mungkin dan mulai tatalaksana awal yang sesuai di tempat kejadian.
  1. Pencegahan cedera lebih lanjut berlaku pada hampir semua pasien trauma. Vertebra servikal harus difiksasi, dan pasien dibebaskan dari tempat kejadian dan dipindahkan ke tandu. Pembidaian fraktur bisa meminimalkan cedera neurovaskular dan kehilangan darah lebih lanjut.
  2. Walaupun pada kasus-kasus tertentu ada manfaatnya dilakukan stabilisasi, transpor cepat ke RS adalah pilihan utama.